SEKOLAH BARU,TEMAN BARU
It’s not a dream, Dear,” kata mila. Mila mendelik
lucu. Pipinya yang bulat samakin kelihatan tembem. “Sekolahku? Ini sekolahmu
juga sekarang,” kata Mila gemas. Tari menepuk keningnya. “Oh iya, iya. Aku
lupa. Hahaha,” di tertawa.campur aduk antara tegang, tak sabar, juga cemas. Dan
sekarang, dia berada di sini. “Hebat!” kata tari lagi. Mila melipat kedua
tangannya di dada sambil menatap Tari.”Kenapa?” tanya Tari tak mengerti. “Tahu
enggak, Kamu sudah puluhan kali bilang hebat sejak kita turun dari mobil,” Mila
mengingatkan. Pagi ini Tari memang berangkat bersama Mila. Tari cekikikan.
“Sudah kubilang, kamu pasti akan suka bersekolah di sini,” ujar Mila yakin.
“Kuharap aku benar-benar suka di sini”. Mila mengacukan jempolnya. “siiip! Mau
berkeliling dulu?” Tangannya menunjuk beberapa tempat di hadapan meraka dengan
cepat, secepat suaranya. Sekolah ini punya beberapa kmar mandi, ada di setiap
gedung ini.tari mencatat dalam hati semua yang dikatakan Mila. “Diman
perpustakaannya?” Tari bertanya. “Perpustakaan ada di sebelah sana,” Mila
menunjuk sebuah ruang. “Kamu pasti suka berada di perpustakan. Ada ribuan buku
yg menarik. Mila tahu Tari sangat suka membaca. Mila yang murah hati takkan
keberatan meminjaminya. Dia pikir, Mila pasti ingin membaca terlebih dahulu. Di
sepanjang koridor berjajar ruang-ruang kelas dangan jendela sebening air. Dari
jebdela itu, Tari dapat melihat tempat duduk dan meja berjajar rapi. Tidak
seperti ruang di sekolahnya dulu yang penuh sesak kerana dijejali dangan empat
puluh orang murid. “I will never say never! I will fight till forever!” Never
Say Nevernya Justin Bieber tak henti dinyanyikan Mila sejak mereka sampai di
sekolah. Mila pencinta lingkungan, dia bisa mengomel panjang lebar jika
menemukan sampah berserakan. Dia bahkan rela membawa pulang botol minum kemasan
lalu mengubahnya menjadi pot bunga cantik dari pada membuangnya ke tempat
sampah. Berulang kali dia mengusap telapak tangannya dangan sapu tangan yang
sedari tadi dipegangnya. “Kenapa rupanya?” Rupanya Mila memerhatikan tari
berulang kali mengusap telapak tangan yang sedari tadi dipegangnya. Kenapa
rupaya mila memerhatikan tari berulang
kali mengusap telapak tangan. Tari mengeleng sambil tertawa aku hanya
sedikit gugup tari mengertawakan dirinya
mila ikut tertawa. Jangan terlalu khawatir. Sekolah ini menyenangkan, kok lama
kelaman kamu akan terbiasa. Semuanya serba beda, tari mengaku memang sedikit
beda dengan sekolahmu dulu. Tapi tari menyukainya, ini lebih keren dari yang kubayangkan ungkap tari sekolah ini
memang keren karna kamu harus sekolah di sini, mila mengedipkan sebelah matanya
mila benar pikiran tari pantas saja mila bersusah payah membujuk aku bersekolah
di sekolahnya, lagi pula sayang sekali kalau berhenti sekolah nilai-nilaimu di
sekolah dulu sangat bagus kamu suka menuliskan
disana ada writing club cocok sekali untukmu lanjut mila gedung ya
tbertingkat dua kelihatan modern dan kokoh, seharusnya aku tak ragu sekolah
disini pikir tari lagi, ck-ck-ck..., tari tak henti-hentinya berdecak kagum
melihatnya langsung membuat jantung tari berdegup lebih kencang, tari ayo kita
masuk kelas ajak mila tari mengangguk, rupanya gadis periang itu dikenal banyak
orang dan kalau mereka menatapnya dia
langsung menunduk, Gleg, tari menelan ludah
hanya seragam mereka yang sama yang menandakan dia murid sekolah itu,
mila sendiri tak kalah keren sepatunya,tasnya dan jam tangannya,semua ya
berwarna ungu, ayah mila yang seorang pengusaha sering membawakannya sebagai
oleh-oleh ketika pulang dari berpergian, dia juga tak pernah memamerkan
benda-benda miliknya, buat apa, ini semua kepunyaan orangtuaku aku, sih, hanya
kecipratan saja,’’kata mila, untung ada mila, pikir tari, kalau tidak, dia
mungkin tak berani masuk ke sekolah ini, berkat orangtua mila pula tari pindah
sekolah. Nah, ini ruang kelas pertama kita, silahkan masuk, kata mila dengan
ceria, tari melihat sekeliling ruangan, sebentar lagi belajar akan di mulai
sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit, kita duduk dimana,?’’tanya tari. “sini,
duduk di dekatku,’’ kata mila sambil menunjuk meja sampingnya. Di sekolah tari
dulu murid-murid saling berbagi meja, jadi satu meja untuk dua orang murid.
Bersih dan halus, berbeda sekali dengan meja dan bangku kayu di sekolah
lamanya, suatu kali, ada seorang murid nekat mendudukinya, lalu kursi itu patah
menjadi dua bagian. “duduklah,’’ kata mila lagi, tari menurut, tapi kemudian
berpikir lagi, ragu-ragu mila mengeleng cepat hingga rambutnya ikal
bergerak-gerak lucu seperti pegas yang ditarik. Tuing...tuing...tuing!hihihi,
lucu sekali kamu boleh duduk dimana saja selama tempat itu belom ada yang
menemppati. Tari mengerutkan kening. “apa maksudnya?’’ “jadi, setiap mata
pelajaran berganti,nanti kita pindah ke kelas lain. Semua murid boleh berpindah
tempat duduk setiap hari,’’mila menjelaskan. Sekolah barumu itu berbeda dengan
sekolahmu yang dulu, tari. Jangan sampai mengecewakan bapak dan ibu prasetyo
yang sudah mau membiayai sekolahmu, ya,’’ kata ibu tadi malam. Tari merasa tak
tega menghancurkannya dengan mengatakan perasaan tari yang sesungguhnya. Dalam
hati kecinya,dia tahu, sebagian besar murid-murid yang bersekolah di marigold
adalah anak-anak orang kaya, uang SPP di sekolah itu sebesar uang makan kita
bertiga sebulan,tari. “tari tahu, sekolah itu bagus,Bu.’’ Tapi....
ketakutan-ketakutan muncul di benaknya. Takut jika ada yang mengatainya ...
anah. Huff ..... sesunguhnya, yang terakhir ini adalah ketakutan terbesar tari.
Entah mengapa, pundak kirinya terlihat lebih rendah dari pundak kanannya,
sehingga bentuk tubuhnya terlihat asimetris. Tulang punggungnya terlihat
menonjol meskipun dia berusaha menegakkan badan. Dia merasa menjadi itik yang
buruk rupa, tak ada cantiknya sama sekali tari tak tahu pasti sejak kapan
tubuhnya seperti itu walau kadang-kadang terasa nyeri, tapi tari tak mau
mengeluh, ketika ibu dan eyang ti tahu, mereka ingin membawanya ke dokter,
hingga sekarang, belum pernah sekali pun tari ke dokter untuk memeriksakan
punggungnya itu, selamat pagi sapa mila
pada teman-temannya yang baru masuk kelas, seorang gadis dengan kacamata
bertengger di rambutnya masuk ke dalam kelas, terburu-buru hingga menjatuhkan
tasnya, bruuk! Seluruh isi tasnya berhamburan ke luar, tari sempat melihat sebuah
blackberry yang dilihatnya di sebuah iklan teve terlempar ke luar, gadis itu
buru-buru memasukan blackberrynya ke dalam tas. “Felisha!” mila berteriak
memanggilnya. “ tumben datang agak siang,” komentarnya.gadis itu tertawa lebar
melihat mila, “hai,Mil,” felisha menghampiri mereka. Aku sudah mencari
kemana-mana makanya aku jalan kayak orang rabun. Lalu mereka serempak tertawa
gadis yang dipanggil Felisha itu meraba kepalanya, “kenapa tadi aku bisa
mencarinya hingga ke kamar mandi , ya? Dia balik bertanya mereka tertawa
berderai-derai felisha sama sekali tak
tersinggung diledek seperti itu oleh mila,tari ingat kata mila beberapa hari
sebelumnya, mereka berdua bersahabat. Tingkah mereka berdua benar-benar membuatnya
terhibur kalau semua temannya seperti itu, dia pasti akan betah di sekolah “Eh,
siapa ini? Aku belum kenal, ya?” tanya felisha ketika tersadar ada tari yang
belom pernah dia lihat sebelumnya, tari langsung suka melihat felisha meskipun
pelupa, dia mengenakan seragamnya dengan rapi rambut felisha dikepang dua
dengan jalinan yang rapi pula, “ini tari. Ingat? Aku pernah menceritakannya
padamu, kan?” jelas mila singkat kenalkan ini felisha, Ri. Selamat datang di
sekolah kami. Senang sekali punya teman baru
cerocos felisha, oooh ini yang namanya felisha pikir tari sebelumnya
mila juga sudah pernah bercerita tentang felisha, sahabatnya, melihat
kacamatanya yang tebal tari menebak felisha anak yang cerdas asyik sekali siapa
tahu dia bisa mengajariku mengunakan komputer pikir tari, mila dan felisha asyik
bercakap-cakap sementara tari memerhatikan sekelilingnya, seragam mereka sama
bersih cemerlang tidak kusam karena bertahun-tahun tak di ganti seperti
seragamnya dulu, tas mereka bergambar tokoh-tokoh film kartun yang jelita
seperti princess atau berbie berwarna-warni cerah,dan mereka semua membawa
ponsel! Hanya tari yang tidak, dia merasa masuk ketempat yang salah dia tak
percaya diri karena terlihat berbeda sepatu pemberian mila lumayan masih bagus
dan bersih semoga tak ada yang tahu
bahwa sepatu itu milik mila batinnya tiba-tiba perutnya terasa mulas seperti
saat pertama tampil menari di atas panggung
beberapa tahun lalu, kalau kamu merasa gugup hitunglah sampai angka
sepuluh atur panas dan kamu akan
merasakan lebih baik, satu...dua...tiga... empat... dia mulai menghitung
pelan-pelan dia mulai bisa tersenyum, meski masih sedikit gelisa.
Cepat, Pak Ed nanti aku terlambat
teriak nadine. Mobil berwarna perak itu meliuk-liuk mencari sela di kemacetan
jalan bangun terlambat non? Tanya Pak Edi, nadine mendengus tuh gara-gara mbak
An enggak bangunin nadine menyalahkan, Pak Edi tersenyum sudah biasa baginya
mendengarkan nadine menyalahka semua orang sudah tahu bangun terlambat kok
masih sempat-sempatnya pakai jepit rambut dan gelang berjajar banyak begitu, pikir
Pak Edi sambil berdecak heran, asalkan cokelat putih yang rasa susunya kental
banget, sekeping cokelat putih jatuh di bukunya di biarkan saja, dia selalu
tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berhenti di depan gerbang
ya Pak Ed jangan di tempat parkir pesan nadine dia melirik jam tangan besar
berwarna merah muda di pergelangan tangannya, semalam dia memang tidur larut,
dia tidak mau mama mengomelinya lagi seperti kemarin waktu nilai ulangan
matematikanya Cuma 8 mama enggak mau ya kamu turun peringkat, mama memberi
peringatan, oh, no It’s like a nightmare! Ciiit! Mobil direm mendadak membuat
nadine terlempar ke depan, sudah sampai Non lapor Pak Edi, oke, jangankan
bilang terimakasih Nadine justru akan mengomel sepanjang sungai Nil jika dia
terlambat menjemput semenit saja, Nadine dijuluki teman-temannya sebagai “ Little Miss Perfect ” dia juara kelas cantik dan kaya
Hmm ... apa lagi coba yang kurang, sambil berjalan dia mencangklong tas
berwarna ungu muda bergambar Barbie, dia ingat, mila suka warna ungu dia pasti
ngiri setengah mati melihat tasku,pikirnya pelajaran pertama hari ini adalah
bahasa indonesia, itulah sebabnya semalam dia belajar mati-matian, dia tak mau
logat inggris-nya kentara, gunakan bahasa indonesia dengan benar nadine, saat
masuk kedalam kelas, ruangan sudah hampir penuh gemerincing gelang warna-warni
yang dipakai nadine membuat semua orang menoleh padanya, semerbak wangi manis
stroberi langsung menyebar, dari kejauhan dia melihat seseorang yang menempati
kursi itu Nadine mengerenya kesal tidak! Ini tak bisa diarkan! Nadine belum
pernah melihat dia murid baru batin Nadine perlu di beri pelajaran bahwa di
sekolah ini tak ada yang boleh menempati bangku yang biasa digunakannya, Eh,
siapa kamu? Kok duduk disini, sih? Aku mau duduk,” tegur Nadine, tari yang
sedang berbicara dengan felisha dan mita terlonjak kaget, minggir sana pindah
di pojok belakang tuh masih kosong,’ ujar Nadine galak “Mmm ... maaf,” jawab
tari terbata-bata duh kok ada ya orang yang galak amit-amit kayak gini? Tari
jadi semakin gugup, “what?! It’s mine! Aku mau duduk di depan tahu Nadine mulai
marah, enggak apa kok tari mengalah dari pada harus berhadapan dengan gadis
jutek seperti nenek lampir ini, hiiyy, sudah biarkan saja Nadine yang pindah
tempat masih di deretan depan,kan?” kata felisha Iih, enggak usah sok ngatur
memangnya dia siapa,sih? Sahut Nadine ketus “yeee, enggak perlu ngotot cuman
masalah tempat duduk,kan? Felisha berusaha sabar, dia berdiri dari tempat duduk
lalu meraih tasnya Nadine hampir menjerit senang, tidak ada yang dapat
mengalahkannya disini begitu juga murid baru itu pikirnya, mau kemana, Ri?
Tanya mila menarik tangannya sudah disini saja,’ cegahnya dengan gusar dia
membalikan badan lalu menghempaskan tubuhnya ketempat duduk yang ditunjuk
felisha, tidak perlu di masukkan ke hati dia memang suka marah-marah , mila
cekikikan sendiri mendengar ucapannya, mau tak mau tari tersenyum mila lucu
sekaligus baik hati pikirnya, mata Nadine yang bulat besar menatapnya tajam,
tari mengira mungkin dia berdarah campuran, di kelihatan palingmenarik
perhatian tak lama kemudian Bu Prana , guru bahasa indonesia masuk ke dalam
kelas, apalagi dengan setelan berwarna merah menyala, “selamat pagi anak-anak!”
sapa Bu Prana begitu masuk kelas, “Pagi, Buuu!” balas seisi kelas “ sini
perkenalkan dirimu nak, Bu Prana melambaikan tangan pada tari, tari berjalan
pelan ke depan kelas,tapi tak ada pilihan lain bagi tari, katakan siapa namamu
dan asal sekolahmu pinta Bu Prana namaun suaranya tercekat di tenggorokan bagai
ada sebuah bola besar tersangkut, paling tidak ada 25 pasang mata menatapnya
menunggu salam perkenalannya, dulu aku sekolah di SD Negeri 375,” tari
memaksakan suaranya keluar meski tergagap, senang sekali berkenalan dengan
teman-teman semua,” lanjut tari, Bu Prana tersenyum “ baiklah silahkan kembali
dudukmu,” katanya kebiasaan lama yang sulit hilang posisi duduk yang terasa
nyaman bagi tari, setelah itu baru ibu akan menerangkan, apa? Sepuluh menit?
Nadine ngedumel sendiri bicara dalam bahasa indonesia yang baik saja pelu waktu
semalaman kok bikin puisi berima sepuluh menit? Yang benar saja buru-buru dia
berpikir untukmencoret-coret buku catatanya berusaha membuat puisi seindah
mungkin, yak selesai kata Bu Prana tiba-tiba kelas berdengung bagai ratusan
suara lebah ibu ingin tahu puisi yang kalian tulis Bu Prana mengusap-usap kedua
telapak tangannya, aha coba tari kamu bacakan puisimu dia langsung menajamkan
telinganya coba dengar seperti apa puisinya batinnya penasaran, aku punya
sebuah mimpi kuingin seperti burung yang terbang tinggi kuingi bersinar bagai
mentari walau ini tak mudah sama sekali aku akan terbang menjemput mimpi
melintas di atas pelangikan kupersembahkan pada ayahku nanti kuberjanji pasti
bisa menggenggam mimpi warna-warni, tari melihat mila mengacungkan kedua jempol
padanya dan felisha tersenyum lebar sesaat tari merasa bangga kelihatannya
teman-teman menyukainya jiaah cuman puisi begitu saja aku juga bisa aku bisa
bikin lebih bagus lagi gerutu Nadine dalam hati, hebat jika dalam waktu sepuluh
menit saja kamu bisa membuat puisimu seindah ini ibu yakin jika waktunya lebih
lama puisimu akan jauh lebih indah puji Bu Prana, tak hanya mulut yang bicara
tetapi matanya ikut bermain, lega sekali rasanya karena puisinya mendapat
pujian, dia sangat kesal pada tari baru kali ini ada murid lain yang di puji,
lalu begitu murid baru ini datang wuss ... dia langsung dipuji di hari pertama
masuk sekolah! Menyebalkan sekali, kemudian tasnya butut lalu sepatunya ...,
Nadine merasa pernah melihat sepatu itu sebelumnya, Nadine jadi penasaran ingin
tahu siapa tari sebenarnya, meski masih terlihat bagus dan bersih, sepatu itu
sudah ketinggalan zaman menurut Nadine, Ups! Tari melihatnya! Nadine
cepat-cepat membuang muka, ketika tari taksengaja bertatapan mata dengan Nadine
Tari tahu Nadine masih marah padanya, Teeet! Bel istirahat berbunyi, jangan
lupa kerjakan PR kalian latihan di halaman 65 pesan Bu Prana sebelum ke luar
kelas, setiap ruang kelas seolah memuntahkan mereka ke berbagai penjuru
sekolah, selama jam pelajaran pertama berlangsung dia merasa tak nyaman semua
mata dapat memandangnya dengan leluasa, meski masih kesel dengan perkataan
Nadine tadi diam-diam tari mengakui kebenarannya kata-katanya, apa kata mereka
kalau melihat tubuhnya? Perutnya mendadak mulas ... lagi! Yang ingin
dilakukannya hanyalah duduk dan melakukan kegiatan yang paling disukainya,
Mmm..a... aku tak punya uang tari beralasan, aku yang traktir deh, sahut mila
sambil menarik tangan tari keluar kelas, apalagi mereka sangat baik padanya,
buruan ke kantin sebentar lagi jam istirahat habis mila mengingatkan dasar
tukang makan gerutu felisha, dikatakan seperti itu mila hanya tertawa kalau
enggak makan nanti laper enggak bisa mikir jawab mila sambil meleletkan lidah,
ketika mereka keluar tari melihat Nadine bersama beberapa teman yang belum
dikenalnya berjalan di belakang mereka, mereka pasti membicarakanku, pikirnya
sedih, makanan yang disediakan bermacam-macam dari jajanan pasar hingga Fried
chicken seperti puja sera saja pikir tari, keringat dingin kembali membasahi
tangannya, biar aku yang pesan kata felisha aku bantu bawakan kata tari sudah
ditraktir enggak enak kalau duduk saja, pikirnya nih felisha menyorongkan
sepiring kentang goreng sepring lagi berisi pisang goreng yang masih hangat,
Bruk!klontang kentang dan pisang goreng yang dibawa tari berhamburan kelantai,
tari sudah mengira sebentar lagi nenek lampir jutek ini pasti marah, dia malu
sekali tahu tidak seharusnya kamu tu enggak pantas sekolah disini seru Nadine
sambil berkacak pinggang, mila buru-buru mendekatin mereka Hadoow, sudah de
kena noda minyak sedikit enggak apa-apa kaleee celetuk mila membela tari,
merasa belum pernah melihat tari sebelumnya sosok tari menarik perhatian
mereka, keterlaluan desisnya baru kali ini tari melihat wajah mila yang murah
senyum kelihatan berkerut, mimpi buruknya tadi malam seakan kenyataan tubuhnya gemetar menahan tangis rasanya ingin
menghilangkan saat itu juga jadi aku sarankan kamu segera pindah deh kata
Nadine lagi dengan suara keras, tanpa berkata-kata dia berlari keluar kantin,
tari tunggu teriak felisha berusaha mencegah tari, dia terus berlari mencari
tempat yang aman untuknya, suara-suara yang dulu sering didengarnya berputar
ulang bagai kaset rusak di telinganya, tari bungkuk, tapi suara-suara itu masih
terngiang Nyaring menerkamnya dari berbagi arah, dan kini gemanya semakin keras
sekolah, Brak tari membanting pintu akhirnya setelah berkeliling sekian lama
dia menemukan kamar mandi, dulu teman-temannya juga sering mengejeknya tetapi
sekarang lain, karena Nadine adalah orang yang baru dikenalnya, rasanya tulang
tari seperti ditusuk-tusuk, namun saat hatinya terasa lebih sakit dibanding
punggungnya, duh bagaimana ini jangan-jangan Nadine mengikuti ke sini pikirnya,
oh ternyata mila tari merasa lega, oooh,syukurlah kupikir kamu tersesat mila
mencandainya, Are you oke? Mila bersimpati, felisha menarik ujung rambut ikal
mila membuatnya menjerit Aouuw, dari balik kacamatanya tari tahu bahwa felisha
bersungguh-sungguh, hehe benar juga mila menyeringai sambil menepuk kening,
hanya mereka yang bisa membuatnya tersenyum hari ini, kamu juga pasti akan marah
kalau dikasari seperti tadi felisha mengoda mila, “hush! Kok malah ikut-ikutan
kejam felisha mengingatkan tari tertawa, dia ingin bertanya mengapa punggung tari
bengkok seperti huruf S, di internet semua ada jawaban ya pikirnya cerdas,
terbayang wajah ibu yang bahagia karena tari bisa sekolah di marigold kan ada
kalian bersamaku kata tari tersenyum, mila mengangguk-angguk seperti boneka
keramik yang dilihat tari di toko, resep apa?kamu hanya tahu resep kue felisha
mengolok-olok, yee serius dong ini resep dari mama, oke coba katakan felisha
berusaha serius kata mama jangan pernah berpikiran buruk, sebaliknya kalau kita
berpikiran baik semua hal yang baik akan terjadi pula, tubuhnya yang gemuk tak
membuatnya rendah diri, mila mungkin benar jangan pernah berpikiran buruk
karena itu benar-benar terjadi! Mau coba? Tanya mila lucu, I’II try!” sahut
tari bersemangat, nah begitu dong mila bertepuk tangan mereka berpelukan
bertiga, mereka membuatnya merasa nyaman karena kehangatan persahabatan.