Rabu, 13 Juli 2016

Ringkasan Novel I HAVEA DREAM



SEKOLAH BARU,TEMAN BARU
It’s not a dream, Dear,” kata mila. Mila mendelik lucu. Pipinya yang bulat samakin kelihatan tembem. “Sekolahku? Ini sekolahmu juga sekarang,” kata Mila gemas. Tari menepuk keningnya. “Oh iya, iya. Aku lupa. Hahaha,” di tertawa.campur aduk antara tegang, tak sabar, juga cemas. Dan sekarang, dia berada di sini. “Hebat!” kata tari lagi. Mila melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Tari.”Kenapa?” tanya Tari tak mengerti. “Tahu enggak, Kamu sudah puluhan kali bilang hebat sejak kita turun dari mobil,” Mila mengingatkan. Pagi ini Tari memang berangkat bersama Mila. Tari cekikikan. “Sudah kubilang, kamu pasti akan suka bersekolah di sini,” ujar Mila yakin. “Kuharap aku benar-benar suka di sini”. Mila mengacukan jempolnya. “siiip! Mau berkeliling dulu?” Tangannya menunjuk beberapa tempat di hadapan meraka dengan cepat, secepat suaranya. Sekolah ini punya beberapa kmar mandi, ada di setiap gedung ini.tari mencatat dalam hati semua yang dikatakan Mila. “Diman perpustakaannya?” Tari bertanya. “Perpustakaan ada di sebelah sana,” Mila menunjuk sebuah ruang. “Kamu pasti suka berada di perpustakan. Ada ribuan buku yg menarik. Mila tahu Tari sangat suka membaca. Mila yang murah hati takkan keberatan meminjaminya. Dia pikir, Mila pasti ingin membaca terlebih dahulu. Di sepanjang koridor berjajar ruang-ruang kelas dangan jendela sebening air. Dari jebdela itu, Tari dapat melihat tempat duduk dan meja berjajar rapi. Tidak seperti ruang di sekolahnya dulu yang penuh sesak kerana dijejali dangan empat puluh orang murid. “I will never say never! I will fight till forever!” Never Say Nevernya Justin Bieber tak henti dinyanyikan Mila sejak mereka sampai di sekolah. Mila pencinta lingkungan, dia bisa mengomel panjang lebar jika menemukan sampah berserakan. Dia bahkan rela membawa pulang botol minum kemasan lalu mengubahnya menjadi pot bunga cantik dari pada membuangnya ke tempat sampah. Berulang kali dia mengusap telapak tangannya dangan sapu tangan yang sedari tadi dipegangnya. “Kenapa rupanya?” Rupanya Mila memerhatikan tari berulang kali mengusap telapak tangan yang sedari tadi dipegangnya. Kenapa rupaya mila memerhatikan tari berulang  kali mengusap telapak tangan. Tari mengeleng sambil tertawa aku hanya sedikit gugup  tari mengertawakan dirinya mila ikut tertawa. Jangan terlalu khawatir. Sekolah ini menyenangkan, kok lama kelaman kamu akan terbiasa. Semuanya serba beda, tari mengaku memang sedikit beda dengan sekolahmu dulu. Tapi tari menyukainya, ini lebih keren dari  yang kubayangkan ungkap tari sekolah ini memang keren karna kamu harus sekolah di sini, mila mengedipkan sebelah matanya mila benar pikiran tari pantas saja mila bersusah payah membujuk aku bersekolah di sekolahnya, lagi pula sayang sekali kalau berhenti sekolah nilai-nilaimu di sekolah dulu sangat bagus kamu suka menuliskan  disana ada writing club cocok sekali untukmu lanjut mila gedung ya tbertingkat dua kelihatan modern dan kokoh, seharusnya aku tak ragu sekolah disini pikir tari lagi, ck-ck-ck..., tari tak henti-hentinya berdecak kagum melihatnya langsung membuat jantung tari berdegup lebih kencang, tari ayo kita masuk kelas ajak mila tari mengangguk, rupanya gadis periang itu dikenal banyak orang dan kalau mereka menatapnya  dia langsung menunduk, Gleg, tari menelan ludah  hanya seragam mereka yang sama yang menandakan dia murid sekolah itu, mila sendiri tak kalah keren sepatunya,tasnya dan jam tangannya,semua ya berwarna ungu, ayah mila yang seorang pengusaha sering membawakannya sebagai oleh-oleh ketika pulang dari berpergian, dia juga tak pernah memamerkan benda-benda miliknya, buat apa, ini semua kepunyaan orangtuaku aku, sih, hanya kecipratan saja,’’kata mila, untung ada mila, pikir tari, kalau tidak, dia mungkin tak berani masuk ke sekolah ini, berkat orangtua mila pula tari pindah sekolah. Nah, ini ruang kelas pertama kita, silahkan masuk, kata mila dengan ceria, tari melihat sekeliling ruangan, sebentar lagi belajar akan di mulai sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit, kita duduk dimana,?’’tanya tari. “sini, duduk di dekatku,’’ kata mila sambil menunjuk meja sampingnya. Di sekolah tari dulu murid-murid saling berbagi meja, jadi satu meja untuk dua orang murid. Bersih dan halus, berbeda sekali dengan meja dan bangku kayu di sekolah lamanya, suatu kali, ada seorang murid nekat mendudukinya, lalu kursi itu patah menjadi dua bagian. “duduklah,’’ kata mila lagi, tari menurut, tapi kemudian berpikir lagi, ragu-ragu mila mengeleng cepat hingga rambutnya ikal bergerak-gerak lucu seperti pegas yang ditarik. Tuing...tuing...tuing!hihihi, lucu sekali kamu boleh duduk dimana saja selama tempat itu belom ada yang menemppati. Tari mengerutkan kening. “apa maksudnya?’’ “jadi, setiap mata pelajaran berganti,nanti kita pindah ke kelas lain. Semua murid boleh berpindah tempat duduk setiap hari,’’mila menjelaskan. Sekolah barumu itu berbeda dengan sekolahmu yang dulu, tari. Jangan sampai mengecewakan bapak dan ibu prasetyo yang sudah mau membiayai sekolahmu, ya,’’ kata ibu tadi malam. Tari merasa tak tega menghancurkannya dengan mengatakan perasaan tari yang sesungguhnya. Dalam hati kecinya,dia tahu, sebagian besar murid-murid yang bersekolah di marigold adalah anak-anak orang kaya, uang SPP di sekolah itu sebesar uang makan kita bertiga sebulan,tari. “tari tahu, sekolah itu bagus,Bu.’’ Tapi.... ketakutan-ketakutan muncul di benaknya. Takut jika ada yang mengatainya ... anah. Huff ..... sesunguhnya, yang terakhir ini adalah ketakutan terbesar tari. Entah mengapa, pundak kirinya terlihat lebih rendah dari pundak kanannya, sehingga bentuk tubuhnya terlihat asimetris. Tulang punggungnya terlihat menonjol meskipun dia berusaha menegakkan badan. Dia merasa menjadi itik yang buruk rupa, tak ada cantiknya sama sekali tari tak tahu pasti sejak kapan tubuhnya seperti itu walau kadang-kadang terasa nyeri, tapi tari tak mau mengeluh, ketika ibu dan eyang ti tahu, mereka ingin membawanya ke dokter, hingga sekarang, belum pernah sekali pun tari ke dokter untuk memeriksakan punggungnya itu, selamat pagi  sapa mila pada teman-temannya yang baru masuk kelas, seorang gadis dengan kacamata bertengger di rambutnya masuk ke dalam kelas, terburu-buru hingga menjatuhkan tasnya, bruuk! Seluruh isi tasnya berhamburan ke luar, tari sempat melihat sebuah blackberry yang dilihatnya di sebuah iklan teve terlempar ke luar, gadis itu buru-buru memasukan blackberrynya ke dalam tas. “Felisha!” mila berteriak memanggilnya. “ tumben datang agak siang,” komentarnya.gadis itu tertawa lebar melihat mila, “hai,Mil,” felisha menghampiri mereka. Aku sudah mencari kemana-mana makanya aku jalan kayak orang rabun. Lalu mereka serempak tertawa gadis yang dipanggil Felisha itu meraba kepalanya, “kenapa tadi aku bisa mencarinya hingga ke kamar mandi , ya? Dia balik bertanya mereka tertawa berderai-derai felisha  sama sekali tak tersinggung diledek seperti itu oleh mila,tari ingat kata mila beberapa hari sebelumnya, mereka berdua bersahabat. Tingkah mereka berdua benar-benar membuatnya terhibur kalau semua temannya seperti itu, dia pasti akan betah di sekolah “Eh, siapa ini? Aku belum kenal, ya?” tanya felisha ketika tersadar ada tari yang belom pernah dia lihat sebelumnya, tari langsung suka melihat felisha meskipun pelupa, dia mengenakan seragamnya dengan rapi rambut felisha dikepang dua dengan jalinan yang rapi pula, “ini tari. Ingat? Aku pernah menceritakannya padamu, kan?” jelas mila singkat kenalkan ini felisha, Ri. Selamat datang di sekolah kami. Senang sekali punya teman baru  cerocos felisha, oooh ini yang namanya felisha pikir tari sebelumnya mila juga sudah pernah bercerita tentang felisha, sahabatnya, melihat kacamatanya yang tebal tari menebak felisha anak yang cerdas asyik sekali siapa tahu dia bisa mengajariku mengunakan komputer pikir tari, mila dan felisha asyik bercakap-cakap sementara tari memerhatikan sekelilingnya, seragam mereka sama bersih cemerlang tidak kusam karena bertahun-tahun tak di ganti seperti seragamnya dulu, tas mereka bergambar tokoh-tokoh film kartun yang jelita seperti princess atau berbie berwarna-warni cerah,dan mereka semua membawa ponsel! Hanya tari yang tidak, dia merasa masuk ketempat yang salah dia tak percaya diri karena terlihat berbeda sepatu pemberian mila lumayan masih bagus dan bersih  semoga tak ada yang tahu bahwa sepatu itu milik mila batinnya tiba-tiba perutnya terasa mulas seperti saat pertama tampil menari di atas panggung  beberapa tahun lalu, kalau kamu merasa gugup hitunglah sampai angka sepuluh  atur panas dan kamu akan merasakan lebih baik, satu...dua...tiga... empat... dia mulai menghitung pelan-pelan dia mulai bisa tersenyum, meski masih sedikit gelisa.
Cepat, Pak Ed nanti aku terlambat teriak nadine. Mobil berwarna perak itu meliuk-liuk mencari sela di kemacetan jalan bangun terlambat non? Tanya Pak Edi, nadine mendengus tuh gara-gara mbak An enggak bangunin nadine menyalahkan, Pak Edi tersenyum sudah biasa baginya mendengarkan nadine menyalahka semua orang sudah tahu bangun terlambat kok masih sempat-sempatnya pakai jepit rambut dan gelang berjajar banyak begitu, pikir Pak Edi sambil berdecak heran, asalkan cokelat putih yang rasa susunya kental banget, sekeping cokelat putih jatuh di bukunya di biarkan saja, dia selalu tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berhenti di depan gerbang ya Pak Ed jangan di tempat parkir pesan nadine dia melirik jam tangan besar berwarna merah muda di pergelangan tangannya, semalam dia memang tidur larut, dia tidak mau mama mengomelinya lagi seperti kemarin waktu nilai ulangan matematikanya Cuma 8 mama enggak mau ya kamu turun peringkat, mama memberi peringatan, oh, no It’s like a nightmare! Ciiit! Mobil direm mendadak membuat nadine terlempar ke depan, sudah sampai Non lapor Pak Edi, oke, jangankan bilang terimakasih Nadine justru akan mengomel sepanjang sungai Nil jika dia terlambat menjemput semenit saja, Nadine dijuluki teman-temannya sebagai “ Little Miss Perfect ” dia juara kelas cantik dan kaya Hmm ... apa lagi coba yang kurang, sambil berjalan dia mencangklong tas berwarna ungu muda bergambar Barbie, dia ingat, mila suka warna ungu dia pasti ngiri setengah mati melihat tasku,pikirnya pelajaran pertama hari ini adalah bahasa indonesia, itulah sebabnya semalam dia belajar mati-matian, dia tak mau logat inggris-nya kentara, gunakan bahasa indonesia dengan benar nadine, saat masuk kedalam kelas, ruangan sudah hampir penuh gemerincing gelang warna-warni yang dipakai nadine membuat semua orang menoleh padanya, semerbak wangi manis stroberi langsung menyebar, dari kejauhan dia melihat seseorang yang menempati kursi itu Nadine mengerenya kesal tidak! Ini tak bisa diarkan! Nadine belum pernah melihat dia murid baru batin Nadine perlu di beri pelajaran bahwa di sekolah ini tak ada yang boleh menempati bangku yang biasa digunakannya, Eh, siapa kamu? Kok duduk disini, sih? Aku mau duduk,” tegur Nadine, tari yang sedang berbicara dengan felisha dan mita terlonjak kaget, minggir sana pindah di pojok belakang tuh masih kosong,’ ujar Nadine galak “Mmm ... maaf,” jawab tari terbata-bata duh kok ada ya orang yang galak amit-amit kayak gini? Tari jadi semakin gugup, “what?! It’s mine! Aku mau duduk di depan tahu Nadine mulai marah, enggak apa kok tari mengalah dari pada harus berhadapan dengan gadis jutek seperti nenek lampir ini, hiiyy, sudah biarkan saja Nadine yang pindah tempat masih di deretan depan,kan?” kata felisha Iih, enggak usah sok ngatur memangnya dia siapa,sih? Sahut Nadine ketus “yeee, enggak perlu ngotot cuman masalah tempat duduk,kan? Felisha berusaha sabar, dia berdiri dari tempat duduk lalu meraih tasnya Nadine hampir menjerit senang, tidak ada yang dapat mengalahkannya disini begitu juga murid baru itu pikirnya, mau kemana, Ri? Tanya mila menarik tangannya sudah disini saja,’ cegahnya dengan gusar dia membalikan badan lalu menghempaskan tubuhnya ketempat duduk yang ditunjuk felisha, tidak perlu di masukkan ke hati dia memang suka marah-marah , mila cekikikan sendiri mendengar ucapannya, mau tak mau tari tersenyum mila lucu sekaligus baik hati pikirnya, mata Nadine yang bulat besar menatapnya tajam, tari mengira mungkin dia berdarah campuran, di kelihatan palingmenarik perhatian tak lama kemudian Bu Prana , guru bahasa indonesia masuk ke dalam kelas, apalagi dengan setelan berwarna merah menyala, “selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Prana begitu masuk kelas, “Pagi, Buuu!” balas seisi kelas “ sini perkenalkan dirimu nak, Bu Prana melambaikan tangan pada tari, tari berjalan pelan ke depan kelas,tapi tak ada pilihan lain bagi tari, katakan siapa namamu dan asal sekolahmu pinta Bu Prana namaun suaranya tercekat di tenggorokan bagai ada sebuah bola besar tersangkut, paling tidak ada 25 pasang mata menatapnya menunggu salam perkenalannya, dulu aku sekolah di SD Negeri 375,” tari memaksakan suaranya keluar meski tergagap, senang sekali berkenalan dengan teman-teman semua,” lanjut tari, Bu Prana tersenyum “ baiklah silahkan kembali dudukmu,” katanya kebiasaan lama yang sulit hilang posisi duduk yang terasa nyaman bagi tari, setelah itu baru ibu akan menerangkan, apa? Sepuluh menit? Nadine ngedumel sendiri bicara dalam bahasa indonesia yang baik saja pelu waktu semalaman kok bikin puisi berima sepuluh menit? Yang benar saja buru-buru dia berpikir untukmencoret-coret buku catatanya berusaha membuat puisi seindah mungkin, yak selesai kata Bu Prana tiba-tiba kelas berdengung bagai ratusan suara lebah ibu ingin tahu puisi yang kalian tulis Bu Prana mengusap-usap kedua telapak tangannya, aha coba tari kamu bacakan puisimu dia langsung menajamkan telinganya coba dengar seperti apa puisinya batinnya penasaran, aku punya sebuah mimpi kuingin seperti burung yang terbang tinggi kuingi bersinar bagai mentari walau ini tak mudah sama sekali aku akan terbang menjemput mimpi melintas di atas pelangikan kupersembahkan pada ayahku nanti kuberjanji pasti bisa menggenggam mimpi warna-warni, tari melihat mila mengacungkan kedua jempol padanya dan felisha tersenyum lebar sesaat tari merasa bangga kelihatannya teman-teman menyukainya jiaah cuman puisi begitu saja aku juga bisa aku bisa bikin lebih bagus lagi gerutu Nadine dalam hati, hebat jika dalam waktu sepuluh menit saja kamu bisa membuat puisimu seindah ini ibu yakin jika waktunya lebih lama puisimu akan jauh lebih indah puji Bu Prana, tak hanya mulut yang bicara tetapi matanya ikut bermain, lega sekali rasanya karena puisinya mendapat pujian, dia sangat kesal pada tari baru kali ini ada murid lain yang di puji, lalu begitu murid baru ini datang wuss ... dia langsung dipuji di hari pertama masuk sekolah! Menyebalkan sekali, kemudian tasnya butut lalu sepatunya ..., Nadine merasa pernah melihat sepatu itu sebelumnya, Nadine jadi penasaran ingin tahu siapa tari sebenarnya, meski masih terlihat bagus dan bersih, sepatu itu sudah ketinggalan zaman menurut Nadine, Ups! Tari melihatnya! Nadine cepat-cepat membuang muka, ketika tari taksengaja bertatapan mata dengan Nadine Tari tahu Nadine masih marah padanya, Teeet! Bel istirahat berbunyi, jangan lupa kerjakan PR kalian latihan di halaman 65 pesan Bu Prana sebelum ke luar kelas, setiap ruang kelas seolah memuntahkan mereka ke berbagai penjuru sekolah, selama jam pelajaran pertama berlangsung dia merasa tak nyaman semua mata dapat memandangnya dengan leluasa, meski masih kesel dengan perkataan Nadine tadi diam-diam tari mengakui kebenarannya kata-katanya, apa kata mereka kalau melihat tubuhnya? Perutnya mendadak mulas ... lagi! Yang ingin dilakukannya hanyalah duduk dan melakukan kegiatan yang paling disukainya, Mmm..a... aku tak punya uang tari beralasan, aku yang traktir deh, sahut mila sambil menarik tangan tari keluar kelas, apalagi mereka sangat baik padanya, buruan ke kantin sebentar lagi jam istirahat habis mila mengingatkan dasar tukang makan gerutu felisha, dikatakan seperti itu mila hanya tertawa kalau enggak makan nanti laper enggak bisa mikir jawab mila sambil meleletkan lidah, ketika mereka keluar tari melihat Nadine bersama beberapa teman yang belum dikenalnya berjalan di belakang mereka, mereka pasti membicarakanku, pikirnya sedih, makanan yang disediakan bermacam-macam dari jajanan pasar hingga Fried chicken seperti puja sera saja pikir tari, keringat dingin kembali membasahi tangannya, biar aku yang pesan kata felisha aku bantu bawakan kata tari sudah ditraktir enggak enak kalau duduk saja, pikirnya nih felisha menyorongkan sepiring kentang goreng sepring lagi berisi pisang goreng yang masih hangat, Bruk!klontang kentang dan pisang goreng yang dibawa tari berhamburan kelantai, tari sudah mengira sebentar lagi nenek lampir jutek ini pasti marah, dia malu sekali tahu tidak seharusnya kamu tu enggak pantas sekolah disini seru Nadine sambil berkacak pinggang, mila buru-buru mendekatin mereka Hadoow, sudah de kena noda minyak sedikit enggak apa-apa kaleee celetuk mila membela tari, merasa belum pernah melihat tari sebelumnya sosok tari menarik perhatian mereka, keterlaluan desisnya baru kali ini tari melihat wajah mila yang murah senyum kelihatan berkerut, mimpi buruknya tadi malam seakan kenyataan  tubuhnya gemetar menahan tangis rasanya ingin menghilangkan saat itu juga jadi aku sarankan kamu segera pindah deh kata Nadine lagi dengan suara keras, tanpa berkata-kata dia berlari keluar kantin, tari tunggu teriak felisha berusaha mencegah tari, dia terus berlari mencari tempat yang aman untuknya, suara-suara yang dulu sering didengarnya berputar ulang bagai kaset rusak di telinganya, tari bungkuk, tapi suara-suara itu masih terngiang Nyaring menerkamnya dari berbagi arah, dan kini gemanya semakin keras sekolah, Brak tari membanting pintu akhirnya setelah berkeliling sekian lama dia menemukan kamar mandi, dulu teman-temannya juga sering mengejeknya tetapi sekarang lain, karena Nadine adalah orang yang baru dikenalnya, rasanya tulang tari seperti ditusuk-tusuk, namun saat hatinya terasa lebih sakit dibanding punggungnya, duh bagaimana ini jangan-jangan Nadine mengikuti ke sini pikirnya, oh ternyata mila tari merasa lega, oooh,syukurlah kupikir kamu tersesat mila mencandainya, Are you oke? Mila bersimpati, felisha menarik ujung rambut ikal mila membuatnya menjerit Aouuw, dari balik kacamatanya tari tahu bahwa felisha bersungguh-sungguh, hehe benar juga mila menyeringai sambil menepuk kening, hanya mereka yang bisa membuatnya tersenyum hari ini, kamu juga pasti akan marah kalau dikasari seperti tadi felisha mengoda mila, “hush! Kok malah ikut-ikutan kejam felisha mengingatkan tari tertawa, dia ingin bertanya mengapa punggung tari bengkok seperti huruf S, di internet semua ada jawaban ya pikirnya cerdas, terbayang wajah ibu yang bahagia karena tari bisa sekolah di marigold kan ada kalian bersamaku kata tari tersenyum, mila mengangguk-angguk seperti boneka keramik yang dilihat tari di toko, resep apa?kamu hanya tahu resep kue felisha mengolok-olok, yee serius dong ini resep dari mama, oke coba katakan felisha berusaha serius kata mama jangan pernah berpikiran buruk, sebaliknya kalau kita berpikiran baik semua hal yang baik akan terjadi pula, tubuhnya yang gemuk tak membuatnya rendah diri, mila mungkin benar jangan pernah berpikiran buruk karena itu benar-benar terjadi! Mau coba? Tanya mila lucu, I’II try!” sahut tari bersemangat, nah begitu dong mila bertepuk tangan mereka berpelukan bertiga, mereka membuatnya merasa nyaman karena kehangatan persahabatan.